Tanpa Kompromi

Tanpa Kompromi

“Mbak, turunnya sebelah mana?” tanya supir kendaraan travel yang baru saja membawaku kembali ke kota ini.

“Ndak apa-apa pak di depan situ saja Pak,” jawabku.

Lalu mobil ini berhenti dan aku membuka pintu sampingku di sebelah kiri. Setelah itu, terdengar suara pintu bagasi belakang dibuka oleh bapak supir itu yang lalu mengambilkan tasku. Begitu gesitnya dia bergerak dan segera menutup pintu bagasi belakang.

Aku sendiri lalu membayar jumlah notanya dan kemudian aku pikir normalnya, percakapan seperti biasa tetap diakhiri kata “Terimakasih” dariku.  Tetapi tidak kali ini… Bapak supir ini membalasnya dengan berujar, “Mbak, minta tolong ya..nanti kalau ada yang sms atau telpon mbak terus nanya berapa jumlah penumpang, tolong bilang ndak tahu atau ndak ingat ya…”

Aku hanya setengah melongo dan cuma mengangguk dan segera berkemas berjalan memasuki gang berpagar menuju rumah. Dalam hati, sempat terpikir apa supir ini gajinya sebegitu kurang-kah sehingga dia bearni mencuri uang perusahaan travel milik majikannya. Sebegitu teganya dia mengambil jatah setoran dengan cara mengurangi jumlah penumpang. Karena dia pakai hp juga menelepon satu-satu penumpang saat dia menjemput, maka dia juga bisa janjian diluar perusahaan travel sehingga bisa dia jemput secara pribadi.

Sekilas pikiranku tentang bos / majikan supir itu yang mungkin kenyataannya memang jahat atau pelit seperti Paman Gober alias Uncle Scrooge (pamannya Donald Bebek di kartun Walt Disney) terhadap dia. Untuk mengambil gampangnya saja kupikir, ya sudahlah nggak apa-apa melek sebelah mata. Lagian cuma menjawab dengan ‘white lie’  alias kebohongan putih saja seperti mengutarakan kata ‘tidak tahu’ rasanya tidak apa-apa, tidak merugikan terlalu banyak pihak bukan?

Keesokan malam harinya, benar juga. Aku menerima sms cross-check, dari kantor travel yang kemarin mengantar aku pulang, yang berbunyi “Mbak, bagaimana kemarin travelnya? Jumlah penumpangnya berapa?”

Sejenak aku termangu, teringat bahwa aku sudah menganggukkan kepala saat bapak supir meminta aku untuk menjawab ‘saya lupa’, perasaan takut nanti bapak supir tersebut marah lalu dipecat kan kasihan.  Aku merasa berhutang moril karena janji untuk menyanggupi menjawab sedemikian rupa karena bapak supir tadi sudah mengantar aku dengan selamat tiba sampai tujuan. Tetapi aku tidak damai dengan justifikasi alias pembenaran yang menjadi alasan untuk berkompromi tersebut.

Maka, kuurungkan niatku untuk berkompromi dengan fakta yang dimodifikasi. Entah sudah berapa lama bapak supir itu melakukan hal demikian dan berapa banyak korban atau penumpang yang hanyut dengan rasa kasihan untuk berkompromi dengan tindak perbuatannya. Karena itu kujawab dengan tegas dan singkat sms itu berapa jumlah penumpang sesungguhnya.

Hari-hari ini, beranikah kita menjawab dengan jujur, sudah berapa banyak kompromi yang sudah, sedang, akan dan yang harus kita buat dalam kehidupan kita sehari-hari? Pun dari hal yang paling sederhana supaya kita bisa bertahan hidup, apakah kita pun sering berkompromi dengan hal-hal diluar ajaran Tuhan?

Integritas menjadi sesuatu idealisme yang langka karena karakter telah berubah menjadi pribadi yang fleksibel seperti bunglon. Baik di politik, pekerjaan sehari-hari, di sekolah, hubungan dengan teman sekerja atau kolega kantor, memenangkan tender proyek, hubungan dengan klien bisnis, partner bisnis, pengurusan berbagai ijin dengan pemerintahan dan masih banyak yang lain.

Aku akui tidak mungkin bisa mengikuti setiap perihal hitam di atas putih secara radikal dan menyenangkan hati orang lain setiap saat. Tetapi sebenarnya, integritas bisa diperjuangkan dan ditanamkan dalam karakter manusia. Meski mungkin hasilnya tidak terlalu sempurna mengingat untuk hidup bermasyarakat pada kenyataannya di masyarakat yang majemuk seperti negeri ini, kita harus banyak berkompromi atau lebih tepatnya berkolaborasi tanpa meninggalkan prinsip hidup hakiki kita sesuai ajaran Kristus.

Pembaca yang terkasih dalam Kristus, Tuhan sendiri sudah berfirman di Roma 12:2 yang bunyinya, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi beruahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: Apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”

Sekarang pertanyaannya adalah: Sanggupkan saya dan Pembaca sekalian untuk memperjuangkan apa yang diajarkan Tuhan sendiri dalam hidup kita ?

Tuhan menerangi nurani dalam setiap langkah hidup kita…

Advertisements

Fellowship atau Gosip ???

Fellowship atau Gosip ???

Minggu pagi itu langkah orang-orang keluar dari auditorium sebuah gereja setelah ibadah terdengar begitu semaraknya. Tiba-tiba seorang wanita muda menarik tangan teman wanita satunya, “Yuk cari pentol (baca: bakso) !! Lagi pengen yang pedes-pedeh nih!”

Temannya pun menjawab, “Iya, yuk ke Abang Somat aja. Eh Lis, ..ngomong-ngomong loe tau nggak? Aku denger si Katrin cerai dari suaminya…”

“Ah, masa? Kalo memang ya sih..ya aku nggak kaget. Abis dia kan nggak becus jadi istri dan ibu rumah tangga yang baik… tapi, Lis..kasihan juga ya?”

“Iya, kasihan…. Tapi ya nggak apalah, syukurin aja. Adil lho… dia kan punya kelebihan duit banyak,…maklum dasar anak orang kokay (baca: kaya) sih !! (dengan nada mengejek) ..dan Tuhan adil kali keluarganya berantakan. Lagian sebenernya aku juga rada nggak simpati kok sama Katrin. Habis orangnya sombong dan jutek (baca: judes) banget…” dan percakapan pun berlanjut terus…

Di sudut lain gereja tampak beberapa pasang suami-istri sedang saling bercengkerama dan berfellowship. Maksudnya baik tetapi percakapan menjadi ajang ‘berlomba’ checking the score alias membandingkan siapa yang berskor lebih banyak sehingga berhak merasa hebat, walaupun hanya dalam hati.

“Anakku hebat lho… Tuhan selalu beserta keluargaku, bulan ini dia lulus dan langsung dapet kerjaan di luar negeri termasuk kemudahan dan fasilitas lainnya.”

“Kalo anakku malah lulus Summa Cum Laude dengan IPK 4.0 dan jadi Valedictorian memberikan pidato di hadapan puluhan ribu murid-murid yang lulus kuliah angkatannya lho..”

“Iya anakku sih dari sekolah selalu juara terus jadi dapet beasiswa… tapi repot ya.. dia mesti terikat tugas dinas setelah lulus karena beasiswa tersebut. Jadi mesti sabar sebelum bisa lompat ke perusahaan lain.”

Seorang bapak hanya diam, namun berusaha berpura-pura tersenyum di lingkaran percakapan tersebut dan dia hanya berbagi ‘sharing’ , “Anakku sudah hampir 2 tahun lulus tapi belum juga bisa dapat kerjaan. Mungkin nggak cocok ya dengan bidangnya atau memang ekonomi sedang sulit sehingga kesempatan kerja semakain sempit dan tiap lulusan baru berlomba untuk merebut kesempatan kerja yang ada di perusahaan-perusahaan besar.”

“Kalo anakku benar merepotkan, aku modali buka toko ….ehhh..bukannya berkembang malah hutangnya nambah terus. Selalu pulang malam nggak tau clubbing ke mana..ya repot sudah besar jadi ya nggak bisa dikontrol lagi ..”

Pembaca yang budiman, mungkin percakapan-percakapan tersebut terlihat ‘tidak bersalah’ karena terasa tidak menyakiti siapa-siapa. Tetapi apakah Anda tahu, bahwa berkumpulnya 2 atau 3 orang lebih dan memberitakan keburukan orang lain atau bencana yang menimpa orang sudah bukan lagi fellowship melainkan sudah termasuk gossip.

Belum lagi sesi berbagi ‘sharing’ yang sering diadakan oleh perkumpulan-perkumpulan, terlebih kaum Nasrani. Memang di Ibrani 10: 25 yang berbunyi, “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat, “ umat Kristen diajarkan untuk sering beribadah di gereja, aktif mengikuti ibadah-ibadah worship, KKR, cellgroup, komsel, pertemuan-pertemuan religi maupun social galang dana, seminar-seminar gerejawi, dan masih banyak acara lainnya, atas nama fellowship.

Memang jika fellowship dilakukan dengan hati yang tulus dan murni terfokus pada Kristus, maka pertemuan tersebut akan berbuntut buah-buah roh kudus seperti yang tertera di Galatia 5:22-26, ”Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemah-lembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dimpimpin oleh Roh, dan janganlah kita gila hormat, janganlah kita saling menantang dan saling mendengki.”

Beberapa karakter fellowship kristiani yang sehat adalah sebagai berikut: sharing ‘berbagi’ dengan tulus, saling mendoakan, saling mendukung ‘ saling support’, akuntabilitas yang transparan, tidak membanding-bandingkan subyek penderita atau menjatuhkan seseorang, tetapi malahan memotivasi dan menyemangati yang kena masalah, memuji bahkan mengajak bersyukur bagi yang mendapat rejeki atau kebaikan Allah, mengusulkan atau mencari jalan keluar suatu permasalahan (yang sesuai ajaran alkitabiah atau sesuai ajaran Kristus sendiri) jika dimintai oleh subyek penderitanya secara langsung, jika tidak ada yang disharingkan malah menjadi pendengar yang baik dan pendoa yang tulus dan bukan menceritakan bahan-bahan cerita ke orang lain.

Tetapi jika tidak, maka sesi fellowship atau pertemuan tersebut akan menyimpang dari yang tersebut dari karakter fellowship sejati seperti yang terurai di atas, maka pertemuan atau fellowship tersebut telah menjadi sebuah sesi gossip.

Ada lagi hal yang memiriskan hati yang sering terjadi. Hal miris ini adalah juga kesalah-kaprahan dalam budaya Asia yang merasuki acara pertemuan fellowship gereja Kristen yaitu budaya interograsi, terutama dari yang merasa lebih usia lanjut dan pengalaman dan memaksakan ataupun menghakimi yang lebih muda walaupun tidak diminta dan belum tentu benar.

Seorang perempuan paruh baya mendekati seorang perempuan lain setelah sebuah acara gereja, lalu dia membuka percakapan secara natural bahkan mungkin diawali pujian, “Wah, kamu umur berapa ya? Kok hebat ya sudah bisa naik mobil mewah seperti itu!! Anakku juga rasanya seusia kamu lho.. Kamu kerja apa, apa bisnis sendiri ya?”

“Terimakasih bu. Nggak juga… saya kerja di perusahaan XYZ.”

“Berapa gaji kamu? Bagus ya perusahaannya? Anakku itu lho kasihan masa mau ambil cuti saja dipersulit apalagi tentang gaji. Nggak mungkin sebanyak kamu.”

“Biasa aja kok bu,” kata wanita yang lebih muda sambil kebingungan mau menjawab apa. Sebab kalo dijawab mengganggu privasi dan kalau tidak dijawab dianggap tidak sopan.

“Kamu sudah nikah belum? Anak berapa?”

“Sudah bu tapi belum punya anak.”

“Walah… ini generasi muda sekarang menunda-nunda terus. Paling kalo bukan karena mandul pasti egois sukanya hambur-hamburin uang ya?? Jangan begitu lho, pikirkan masa tua siapa urusin kamu kalau nanti kamu tua terus apa nggak kasihan sama orang tua kamu yang pengen gendong banyak cucu? Oya…. Sebelum lupa, ini lho nama dokter ahli fertilitas siapa tahu memang terjadi kemandulan antara kamu dan suamimu.”

“Terima kasih bu. Maaf saya harus pergi ke kamar mandi dulu ya..”

Dari gambaran percakapan diatas, saya ajak setiap Pembaca terutama kaum Nasrani yang lanjut usia dan punya banyak pengalaman hidup, juga yang termasuk cukup berprestasi untuk dibanggakan terutama secara duniawi, berkedudukan, punya power to influence (kuasa untuk mempengaruhi), ingatlah ayat di Titus 2:2-3 yang berbunyi, “ Laki-laki yang tua hendaklah hidup sederhana, terhormat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan. Demikian juga perempuan-perempuan yang tua, hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, tetapi cakap mengajarkan hal-hal yang baik.”

Dan mengenai perkara-perkara yang memancing rasa keingin-tahuan, seyogyanyalah kita bertanya langsung pada subyek penderita, baik masalah sakit-penyakit, cekcok atau perceraian rumah tangga, keuangan atau kebangkrutan, masalah hukum atau hutang dan masih banyak lainnya. Justru kita harus meredam atau mengalihkan ke pembicaraan lain jika ada yang mencecar masalah pribadi orang lain di hadapan kita.

Allah Bapa sendiri mengajarkan kepada manusia untuk tidak bergosip atau menyebarkan fitnah atau berita yang tidak Anda ketahui sendiri secara langsung dari subyek penderita dan memang patut dan diijinkan oleh subyek penderitanya langsung untuk disebarkan. Di Perjanjian Lama saya mengajak Anda untuk melihat perintah Allah di Imamat 19:16 Janganlah engkau pergi kian kemari menyebarkan fitnah di antara orang-orang sebangsamu; janganlah engkau mengancam hidup sesamamu manusia. Akulah Tuhan.”

Di Perjanjian Baru Yakobus 4:11 Kita belajar sedemikian rupa  “Saudara-saudaraku, janganlah kamu saling memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya.”

Demikian pula Rasul Paulus mengingatkan jemaat gereja di Korintus untuk tidak bergosip dan saling memfitnah, II Korintus 12:20 Sebab aku kuatir, bahwa apabila kau datang, aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan dan kamu mendapati aku tidak seperti yang kamu inginkan. Aku kuatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan.”

Seperti yang kita ketahui, sejujurnya nurani kita tahu dan sadar bahwa tiap peribadi punya masalah, sama seperti setiap keluarga juga pasti punya masalah. Tetapi tidak perlu kita mengorek-orek luka orang lain kemudian malah ditambahi kucuran air perasan jeruk nipis atau lemon ke luka tersebut. Perih bukan?

Kita tidak berjalan dengan sepatu orang lain (not waling on others’ shoes) berarti kita bukan orang tersebut, karena itulah janganlah kita menghakimi dan langsung memvonis seseorang kemudian menyebarkannya ke orang lain tanpa diminta. Yakobus 4:11-12 berkata, “Saudara-saudaraku, janganlah kamu memfitnah! Barangsiapa memfitnah saudaranya atau menghakiminya, ia mencela hukum dan menghakiminya; dan jika engkau menghakimi hukum, maka engkau bukanlah penurut hukum, tetapi hakimnya. Hanya ada satu Pembuat Hukum dan Hakim, yaitu Dia yang berkuasa menyelamatkan dan membinasakan. Tetapi siapakah engkau, sehingga engkau mau menghakimi sesamamu manusia?”

Sebagai seorang perempuan, saya pun menyadari dengan semakin bertambahnya umur seringkali saya tergoda untuk memberikan ‘solusi’ atau usul bahkan disaat tidak diminta. Sesudah percakapan saya merasa terlalu menggurui atau sok tahu namun juga terbersit ketakutan saya jika saya tidak mengatakan dengan jujur pendapat serta mengemukakan usulan saya makan mungkin saya seperti orang yang tidak perduli. Maka resiko yang saya hadapi adalah dicap cerewet atau nyinyir dan sok menggurui. Saya belajar hardikan keras sebagai seorang perempuan terutama dari I Timotius 5:13 yang menasehati, “Lagipula dengan keluar masuk rumah orang, mereka (maksudnya disini wanita-wanita yang ‘busybodies’ alias banyak ‘acara’) membiasakan diri bermalas-malas dan bukan hanya bermalas-malas saja, tetapi juga meleter (terlalu banyak bicara hal yang tidak perlu) dan mencampuri soal orang lain dan mengatakan hal-hal yang tidak pantas.”

Pembaca yang terkasih di dalam Kristus, jadikan acara fellowship Anda menjadi acara yang begitu sejuk dan membawa situasi yang saling nyaman mendukung, menguatkan , memotivasi, mendorong positivisme, menyemangati, mendoakan atau bahkan menjadi pendengar yang dapat dipercaya, setia, sabar dan akuntabel bagi orang yang sedang sharing atau memang membutuhkan jalan keluar.

Tuhan menyertai Anda di setiap langkah hidup Anda…


Faithful Serenity

Many times human must endure hardships in life. Turbulences, failure, joy, results, financial success, praise, acceptance, illness, loss of someone close to your hearts, work pressure, social pressure and more.. those consists of effort and also destiny. It means that no matter how hard we try there is factor X which is a divine power above human efforts. No matter how much effort human do or someone plead, it is God’s fully decision to bring the outcomes.

The Serenity Prayer by Reinhold Niehbur says:
God, grant me the serenity to accept things I cannot change; The courage to change the things I can; And wisdom to know the difference

In line of the prayer above, it reminds us on Psalm 51:12 which says, “Restore to me the Joy of Your Salvation, and grant me a willing spirit to sustain me.”

It brings up the main point that for Christian the ultimate joy must be always remembered which is the joy of salvation through Christ only. For the rest of our life chapters, we should open our heart and mind and our attitude to accept and sustain unwanted or unplanned happenings or outcomes in our life.

And it does more so in human life in this modern era. Whether you have secular jobs or ministry jobs or part-time serving or full-time househusbands/housewives. The question is: do you have the willing spirit without giving up easily or putting less than your best effort or simply being stagnant or lazy in pursuing your life goals ?


Melakukan yang Terbaik dalam Hidup

Lho….lho… tinggal 35menit lagi… 20menit lagi… 12menit 37 detik lagi… aduh bagaimana ya… mesti harus aku bid berapa ya supaya bisa menang lelang (auction) ??…

Kuakui, diriku sendiripun termasuk perempuan yang doyan belanja jadi masalah shopping online atau browsing belanja barang di dunia nirlaba bukan hal yang baru bagiku. Kalau pun pas dompet terbatas hanya memandang browsing saja sudah cukup sekedar cuci-mata.

Apalagi Black Friday yaitu hari Jumat setelah hari Thanksgiving (hari raya bersyukur biasanya di hari Kamis ke-3 di bulan November) dimana orang rela berjubel-jubel antri barang diskon besar-besaran, terutama barang-barang elektronik dan mainan anak-anak di toko-toko ritel besar sebagai persiapan hadiah Natal untuk keluarga.

Hal ini diikuti Black Monday yaitu hari Senin setelah minggu Thanksgiving (yang biasanya jatuh hari Kamis sebelumnya) di mana semua orang sudah balik kerja kembali masuk kantor tapi malahan shopping di internet sepanjang hari memakai fasilitas kantor yang biasanya sangat cepat untuk berebut barang online apalagi jika ada lelang auction di ebay karena jaringan internet kantor yang ultra-cepat sangat menunjang untuk bisa menang lelang di point price (titik harga) yang ditargetkan.

Karena terfokus pada pricing point yang akan di’klik’ –kan di detik-detik terakhir (tentu dengan bantuan jaringan internet kantor yang super duper cepat), pikiranku jadi tidak terpancang pada perumusan spreadsheet yang sedang kubuat. Bam ! Detik terakhir berlalu, aku kalah lelang, barang idaman (bisa buku unik edisi terbatas atau barang seni kuno atau sebuah tas bekas second-hand Celine phantom luggage edisi khusus dan harganya lebih murah daripada yang baru gres di toko) pun melayang. Bagi seorang kolektor atau penggemar berat barang edisi khusus atau serious trend hunter, pembaca mungkin bisa tertawa geli membayangkan seberapa ‘kecewa-berskala-tinggi’ nya karena barang edisi khusus tersebut diambil atau dibeli orang lain.

Sejenak ada rasa kecewa menyelinap tapi yang lebih lama menerawang adalah rasa bersalah kenapa tidak menyelesaikan workfile itu sesempurna mungkin dalam waktu beberapa jam terakhir. Akhirnya, dengan berjanji pada diri sendiri kubawa pulang dan kukerjakan diluar jam kantor revisinya.

Apakah pembaca pernah mengalami hal yang sama? ‘Not doing your best ‘ istilahnya tidak melakukan yang terbaik yang kita tahu sejujurnya (dalam hati kita tahu) harus kita lakukan sehingga hasil kerja kita sesempurna mungkin.

Dua buku favoritku, ‘chapter’ Alkitab yang bagiku secara pribadi sangat merubah prinsip hidup dan jalan pikiranku selama hampir satu dasawarsa terakhir adalah Amsal (Proverbs) dan Pengkotbah (Ecclesiastes). Dua chapter tersebut 31 bab di Amsal dan 12 bab di Pengkotbah adalah penyulut api hidup saya sekaligus mengingatkan saya tentang kehidupan tiap kali saat nyala lilin saya meredup. Pembaca mungkin jika tertarik bisa mengikuti saya membaca Amsal satu bab dalam satu hari dan membaca Pengkotbah satu bab dalam satu bulan. Bisa diulang dan dikombinasi dengan ritme atau jadwal pembacaan bab lain di Alkitab dan perenungannya untuk saat teduh pribadi Anda masing-masing.

Kali ini yang saya bagikan untuk pembaca sekalian adalah mengenai Pengkhotbah 9:10 yang berbunyi, ”Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan, dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi.”
Tantangan untuk bekerja sebaik mungkin dan melakukan segala sesuatu semaksimal mungkin dan sesempurna mungkin adalah ditujukan bagi kita semua umat manusia, terutama bagi kita yang sudah beriman dalam Kristus. Hal ini menyangkut tindakan nyata aplikasi ajaran Tuhan Yesus dalam Alkitab dan penerapannya dalam kehidupan Kekristenan kita sehari-hari.

Kadang terasa berat karena kita merasa imbalannya terlalu kecil atau perasaan ‘ahhh.. buat apa melakukan yang terbaik karena akhirnya pun tidak dipuji bahkan dimaki atasan yang suka menyalahkan atau suka mengomel ‘nyelathu’ bawahan.’ Bisa juga rasa enggan datang ketika terlalu banyak pihak yang ‘menyerang’ baik secara psikis maupun moral yang membuat semangat kerja dan semangat hidup turun.

Untuk para freelancer yang bekerja dibalik layar alias tidak tampil di publik umum, baik paruh waktu maupun penuh waktu, tantangan ini semakin berat; apalagi buat mereka yang bekerja di dunia yang terafiliasi dengan pekerjaan Tuhan atau pelayanan sosial humanitarian dan gereja. Rasa jenuh kadang menerpa dengan hebatnya; ataupun rasa ‘sia-sia’ saja bagai seiris suara di tengah ombak badai hiruk pikuknya kehidupan modern. Jangan pernah menyerah itu semangat saya buat Anda sekalian dan pembaca yang saya kasihi dalam Kristus. Walau yang Anda lakukan bagaikan setetes embun di tengah lautan namun hal itu tetap berarti di mata Tuhan.

Para pekerja dibalik layar, saya berbagi ayat ini untuk Anda sekalian untuk selalu berbuat yang terbaik, meski tidak ada mata yang memandang sekalipun atau memberi reward ‘hadiah’ sekalipun untuk Anda. Ayatnya saya ambil dari Kolose 3:23 “Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan, dan bukan untuk manusia.”

Jadi imbalan ‘reward’ pembaca sekalian adalah pandangan dari Tuhan sendiri. Tuhan melihat dan mengetahui upayamu di dunia ini dan bagaimana cara kita mengisi hidup ini.

Ayat lain yang mengingatkan saya sebagai seorang manusia untuk selalu berupaya yang terbaik sekuat kemampuan saya adalah Pengkotbah 2: 24 yang berbunyi: “Tak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa inipun dari tangan Allah.”

Baik seorang ibu rumah tangga, pendeta misionaris di pelosok dunia yang paling terpencil sekalipun, atau pendeta tersohor dengan buku yang best-selling, atau CEO portal internet pencari data, atau seorang technopreneur yang paling jenius di dekade ini, atau seorang jaksa penuntut di pengadilan yang sangat licin bersilat kata sampai seorang sukarelawan penterjemah bahasa isyarat bagi sekolah tuna rungu dan tuna wicara. Itu semua pekerjaan manusia karunia Tuhan.

Intinya hidup ini adalah karunia Tuhan dengan pemberian waktu yang terbatas. Saya punya tanggal kadaluwarsa, Anda pun punya tanggal kadaluwarsa. Yang membedakan hanya cara kita mengisi lembaran hidup kita. Pekerjaan apaun yang kita punyai dan kita jalani saat ini adalah pemberian dari Tuhan. Kemampuan untuk mengerjakan dan mendapatkan job / pekerjaan tersebut pun juga karena pemberian Tuhan.

Manusia tidak boleh lupa dan akhirnya hanyut dalam hal yang paling hakiki ini, bahwa hidup manusia itu fana, alias terbatas. Hidup manusia di dunia punya tanggal kadaluwarsa selama menghembuskan nafas di bumi. Tapi jangan putus asa, kita punya janji Kristus yaitu penebusan dosa kita di kayu salib. Kita kaum Nasrani yang percaya pada kasih karunia Kristus yaitu hidup kekal bersama Kristus di surga nanti.

Tetaplah bersemangat dan lakukan yang terbaik yang Anda bisa lakukan. Kasihilah sesama disekitarmu dan biarkan api semangatmu menyala-nyala membakar semangat orang-orang disekitarmu juga untuk melakukan yang terbaik untuk Tuhan dalam kehidupan ini. Apapun itu …

Semangat selalu dalam kasih Kristus …


journey

Life is a journey…. it does have multiple stops though 🙂

lifeasinspiration

View original post


Old Town again…

beautiful alley in classic b&w…

Björn Höglund

20121027-135332.jpg

View original post


Kembali ke Dasar yang Hakiki

Tak banyak yang dapat dilakukan, diucapkan atau dipikirkan di tengah badai kehidupan apapun itu. Jikalau saudara / saudari pembaca mempunyai iman dalam Kristus, baiklah kembali ke doa pokok yang diajarkan oleh Yesus Kristus sendiri. Doa Bapa Kami inilah yang akan membawa manusia pada pokok dasar perbincangan atau puji syukur atau permohonan dengan Penciptanya dalam bentuk doa yang sangat mendasar dan hakiki.

Bapa Kami yang ada di Surga.

Dimuliakanlah namaMu. Datanglah kerajaanMu.

Jadilah kehendakMu, diatas bumi seperti didalam surga.

Berilah kami rejeki pada hari ini.

Dan ampunilah kesalahan kami, seperti kamipun mengampuni yang bersalah kepada kami.

Dan janganlah masukkan kami ke dalam percobaan.

Tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat.

Sebab Engkaulah yang empunya Kerajaan, Kekuasaan dan Kemuliaan.

Sekarang dan selama-lamanya. Amin.