Kejatuhan dalam Hidup

Bagaimana perasaanmu apabila di saat kamu mengalami kesusahan seperti sakit badani atau bangkrut maka teman yg kamu curhati bukannya bersimpati atau mendengarkan dan memberi motivasi, malahan menjatuhkan. Seringkali teman dekat, saudara atau teman yang seiman dalam Kristus, terutama yang dalam tanda kutip ‘fanatik’ selalu menyamakan hal negatif atau kejatuhan yang terjadi dalam hidup timbul karena dosa atau kesalahan atau keturunan.

Contoh perbincangan: ‘Kamu ditipu orang? Wah mesti ada yang nggak beres? Dosa apa kamu?’ atau ‘Kamu mengalami kecelakaan ? Wah pasti loe dosa besar sama Tuhan? Ayo ditengking kuasa-kuasa jahatnya!!’  ’Loe kena kanker? Pasti punya dosa keturunan  dari nenek moyang loe?? Ayo doa pelepasan!!’ Dan masih banyak contoh stereotip yang lainnya.

Memang benar, hal-hal seperti diatas adalah perlu adanya untuk merefleksi keadaan dan kesehatan jiwa dan iman Kekristenan kita. Intropeksi dari waktu ke waktu apalagi bagi orang Kristen yang bergelut sehari-hari dengan pekerjaan sekular dan rutinitas serta pasang-surutnya hidup, maka intropeksi akan membuka mata hati kita akan langkah atau tindakan yang mungkin sudah salah atau menyakiti orang lain dan tidak sesuai dengan ajaran Tuhan.

Pertanyaannya adalah dalam kehidupan manusia beriman yang modern sekarang ini, bagaimana kita menjalani iman yg hidup? Iman di dalam Kristus bukanlah iman yang buta. Iman Kekristenan adalah iman yang dinamis dan bukan sesuatu yang dianggap tidak relevant, kuno, mati di jalan alias ‘mandek pasrah bongkokan’.  Allah memberi kita akal budi dan pikiran untuk berfikir, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yg sesuai dengan perintah Tuhan dan mana yg tidak. Apakah tidak terpikirkan bahwasanya kalau kita kecelakaan di jalan logikanya karena kita sendiri terburu-buru atau tidak hati-hati? Atau, kalau kita ditipu secara financial oleh partner kerja atau teman dekat karena kita tidak hati-hati dan tidak siap ‘kehilangan’ rela dengan teman walau dalam hati sebetulnya kita sudah menduganya?

Bercermin dari kisah Ayub yang mempunyai 3 teman, saya akan bercermin dengan mengupas salah seorang saja dari teman Ayub yaitu Elifas. Elifas menjorokkan Ayub lebih dalam dalam kejatuhannya dengan kalimat di Ayub 4: 6-8 yang berbunyi, “Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu? Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.”

Teguran Elifas kepada Ayub sangat menoreh tajam. Sindiran di ayat 6 bahwa semua ketaatan Ayub kepada perintah dan jalan Tuhan seakan hanya dinding yand dingin dan membisu menabrak hidup Ayub. Di ayat 7 Elifas lebih menyindir dengan satirisme yang menuduhkan bahwa Ayub pasti salah dimata Tuhan. Kalau tidak, maka tidak mungkin Ayub tertimpa semua masalah hidup tersebut. Elifas pun tak lupa menekankan pernyataan tentang hukum alam tabur tuai bahwasanya orang baik tidak mungkin terkena musibah. Maka semua tuduhan dan sindiran Elifas kepada Ayub, saya rasa telah menghujam lubuk hati Ayub.

Walau di akhir cerita kita tahu bahwa Ayub adalah orang saleh namun tetap terkena beban dan malapetaka dalam hidup. Ayub juga tidak sempurna, walau ia takut akan Tuhan tapi sebagai manusia dia juga menggerutu, berkeluh kesah dan mengakui kedaulatan dan kekhalikkan Tuhan, bahwasanya Tuhan sendiri berkuasa mutlak atas apapun yang terjadi dalam kehidupan di alam semesta ini. Perihal musibah yang terjadi, itu karena diijinkan oleh Tuhan sehingga terjadi petaka dalam hidup Ayub, sampai akhirnya Ayub dipulihkan oleh tangan kuasa Tuhan sendiri.

Dari kisah jatuh bangunnya Ayub hingga ia dipulihkan Allah, Ayub 42: 7 yang mengatakan, “Setelah Tuhan mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman Tuhan kepada Elifas, orang Teman: ‘MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub’ .”

Dari ayat tersebut kita mengetahui bahwa ujaran, sindiran dan kata-kata Elifas yang memojokkan Ayub adalah tuduhan tanpa dasar. Elifas tidak mengetahui kehendak Tuhan dan apa alasan Tuhan menimpakan malapetaka kepada Ayub.  Elifas hanya menuduh dengan yakin bahwa Ayub melakukan penyimpangan terhadap Tuhan.  Elifas dan kedua temannya, Bildad dan Zofar, pun dimurkai Tuhan karena tidak berkata benar tentang Allah. Di akhir cerita, Ayub dipulihkan dan mendoakan ketiga temannya agar diampuni Tuhan disertai korban bakaran.

Intinya, tidak semua masalah timbul karena Tuhan semata atau karena hukuman Tuhan kepada kita, manusia beriman dalam Kristus,  yang tidak sempurna dan melakukan dosa. Jika memang iya, bereskan terlebih dahulu semua dosa dan kesalahan kita. Namun jika bukan karena hal tersebut, maka kita jangan dengan mudah menuduh atau menuding orang lain sebagai pecundang dari segi ukuran nilai Kekristenan.

Sebaliknya, jangan mudah menilai bahwa keberuntungan atau rezeki berlimpah yang dialami oleh seorang Kristen menandakan bahwa iman Kekristenannya sempurna dalam keadaan sehat.


Treasure the Time

Life is a relative term. Time is also a relative term. For someone who is depressed, it feels like a neverending torture. For someone who is gregarious, greedy,narcissistic, a social butterfly, an ambitious hungry soul or simply  pursuing what life can gives, it feels like a blink of an eye.

These past few days, I have seen and met many family members, extended relatives, old friends and some new people I never met before. Glad that time has passed many paths and looking forward to more paths I could give to God’s given life in me.

The day after Thanksgiving and Christmas, I saw the door of some mega-box-store busted open and there were a swarm of customers ran amok reaching as many ‘good deal’ or ‘sale’ items as many as possible. As a woman, I see myself guilty in the same behavior as what I have seen. Well, so tempted…who can pass a great discount?

Another occasion leaving me feel guilty is buffet gluttony… eating excessively in a buffet just because I want to justify the amount I paid. It is even worse when going out with a big group of friends and relative, everything feel like never enough and keep piling on foods while talking endlessly.

Shopping could be a family outing… eating buffet can also be a friendship outing… but, is it really? If yes, to what extend? Proverbs 25:16 says “If you find honey, eat just enough; too much of it, and you will vomit.” God does not forbid us to enjoy what life enjoyment is but too much enjoyment out of our own selfish greed will bring disaster to ourselves. Those enjoyment is only an accessory to the real importance, that is time. Time to be with the family or time be with friends or time to have fellowship with church fellows or time to serve.

For those who must work apart from core family frequently, time is the essence of everything, at least for me personally. Setting up boundary is really crucial though some might say  ”Why can’t you do this? Why can’t you change that?” Through time, I have learnt how to appreciate time and its essence.

Time given to us in this life is only once passing us by. Whether we are toiling on it or we are just cruising through life, time will not be coming back. The question then becomes how are we going to use time on our hands? The answer is to lay the foundation of anything we do in our life time on the basic, that is the fear of the Lord. Then, we will appreciate life and time to its core essence, utilize time for everything in place (for Godly serving, social humanity, work or career, business, core family, extended relatives, and friends) based on the fear of the Lord, Christ Jesus. For it is commanded in Isaiah 33:6 “He will be the sure foundation for your times, a rich store of salvation and wisdom and knowledge; the fear of the LORD is the key to this treasure.”

Happy New Year to you all readers and to your family… Treasure the time…and God Blesses… :)


Envious Schadenfreude

Get real!! Human beings are designed to love one another as well as to compete against each other. Look, the sad reality is that human competition can be seen from the growing number of over-ambitious parents who try to push learning experience to their children as early as possible.

Take a look at the number of competing students every year trying to get into Ivy League such as Stanford, MIT, Harvard, Yale, Princeton, Oxford, Cambridge, Vassar, University of Chicago – Booth Business School, University of Pennsylvania – Wharton Business School, and such will cause parents to really prepare their children to be ‘on the prodigy track’ if truly that is one of their major goals in life. In order to get accepted into those schools, a child must be prepared from early age to go to the right pre-K, the right Kindergarten, the achieving Elementary School, the highly scholastic Junior High and then the pedigree prestigious High School.

I was literally dumbfounded when I heard that in many competitive pre-K schools in Asia (particularly Hong Kong and Singapore), a couple of parent must register early to get a seat for their future child while the wife is still pregnant, literally. But that’s the fact of life. If parents do not follow how the society operates, their child will face the risk of getting behind. Holy guacamole!!! Stung with all the commotion, I realize I must follow ‘the order’ and conform to the high society expectation, of course aside from family’s pressure. Am I going to become another Tiger mom??? If my child is blessed with high IQ and EQ then he or she can take it, but how about if he or she is not that intelligent? Or maybe born with disability? Will I feel differently? Can I cope with it? Should I force my child to train rigorously in piano or violin? Math and Physics? Biology and Economic? Must ace every single test to satisfy my ego? Must win athletic medals to make my husband proud of him or her ?

From the education popular point of view above, we know that even Christian must compete rigorously and fiercely in life. That is what the society expects. Many develop unhealthy habits of keeping and checking the scores by comparing themselves and their achievements with others. Keeping up with the Jones or simply do not want to be left behind from the crowd.

God entrusts and equips human with all different talents, learnt skills, spirit and life experiences. Don’t focus too much on comparing with others. Every life has its own fingerprint and molded according to the Creator’s ultimate plan. Though, life course can swerve or change direction based on the freewill we exercise, it still go to the direction to fill the masterplan. How wonderful it is if a Christian life is putting wholeheartedly its effort to stay on course and to try not to stay away from God’s commandments so that the ultimate goal of our life is to fulfill His masterplan that is glorifying His name.

When some young women gather in a park in afternoon, and start comparing notes by reviewing what other’s kid can do such as how many languages they can speak, how many words they can say, how many numbers they can memorize, and so on. As soon as a woman find out her kid is a bit behinds, she starts panicking and very jealous toward others. Somewhere else, in friend gathering or reunion, people start comparing notes on how many have achieved financial breakthroughs, how many are still slim and do not age much, how many have children, how big their house is, how many cars they have, how many world destinations they have travelled, etc. And when you feel defeated and started to feel a stomach crunch, that is the sign that you have jealousy or envy.

Well that was just one aspect of humanly evil side which is envy. God has a warning and also strong commandment for Christians to avoid envy at all cost in Proverbs 14:30 which says, ” A heart at peace gives life to the body, but envy rots the bones.”

Another sister to envy and perhaps even more dramatically poisonous is schadenfreude. Schadenfraude is a German word and literally means the joy of seeing or hearing others’ misfortune or mishaps.

For example, when other get promotion and you are not in a corporate world. What do you feel if you find out you have been stepped over or rejected on a promotion? Quite pissed I guess. From talking with few people, a lot of them feel the same way. How about later on you find out the person who stepped on you before or backstabbed you find difficulties in life or better yet get fired. Do you secretly feel happy about that and curse them? Do you say in your heart ‘you reap what you sow’ ? Or you just say ‘what goes around comes around’ ?

Or how about when your business competitor find difficulty in developing their business further or even got bankrupt. Do you rejoice in their defeat? Proverbs 24: 17 commands us, “Do not gloat when your enemy falls; when he stumbles, do not let your heart rejoice.”

How about in the field of God’s work, where pastors are competing for fame and numbers of sheeps. The more sheeps a pastor gathers, the smarter and the more ‘Godly’ his serving is viewed as. Even though many understand that quality is better than quantity but many churches pursue the latter. Seeing a famous pastor fall due to his human side, then another pastor feels happy hiddenly. This is another proof that schadenfreude can occur even in Godly people’s heart.

From corporate life to entrepreneurship, from church community life to family daily chemistry, human, albeit Christian, can fall into envy or schadenfreude. What we must remember and do is what God commands us as the greatest commandments which is love,  in 1 Corinthians 13:5-6 “It does not dishonor others, it is not self-seeking, it is not easily angered, it keeps no record of wrongs.  Love does not delight in evil but rejoices with the truth.”


Tahan Cuaca

Suara gemerisik angin meniup dedaunan. Langit nampak menggurat abu-abu. Cuaca panas di bulan-bulan musim durian dan mangga mulai tergantikan dengan cuaca mendung berganti hujan. Dalam pikiran saya ahhhh…. sebentar lagi musim rambutan datang.

Saya sangat suka melihat pergantian musim aneka buah-buahan dan bagi saya tiap musim berarti pergantian musim buah, seperti musim buah mangga, duku, rambutan, durian, manggis, jambu, salak dan lain-lainnya. Bersyukur sekali melihat kecantikan buah-buahan tropis yang beraneka ragam.

Bagaimana dengan hati dan sikap kita sebagai anak-anak Kristus? Seringkali kita didera naik-turunnya kehidupan. Cuaca dan suasana hati bisa berubah-rubah. Apakah kita tetap bisa mempertahankan sikap, hati dan iman kita?  Ketahanan iman Kristiani yang teruji dalam berbagi cuaca akan menghasilkan kedewasaaan iman.

Di saat manusia dihadapkan pada deraan kegagalan dan deraan penolakan, iman yang tadinya kukuh bisa berontak dan mulai meragukan. Di saat manusia diberkati dengan berbagai keberhasilan dan penerimaan duniawi dari lingkungannya maka iman pun bisa juga menjadi jauh dari Tuhan karena lupa daratan dan lupa bersyukur. Intinya baik di segi diuntungkan atau dirugikan, banyak tantangan yang dihadapi oleh iman.

Tantangan untuk berani menyatakan kebenaran dengan sepenuh hati namun juga kerendahan hati. Bukan karena congkak hati memaksakan pengertian kita kepada orang lain. 2 Timotius 4:2-5 “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasehatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran. Karena akan datang waktunya, orang tidak dapat lagi menerima ajaran sehat, tetapi  mereka akan mengumpulkan guru-guru menurut kehendaknya untuk memuaskan keinginan telinganya. Mereka akan memalingkan telinganya dari kebenaran dan membukanya bagi dongeng. Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita Injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu!”

Tahan cuaca juga berarti kita sebagai pengikut Kristus harus siap dan secara konstant tabah dalam mengarungi hidup dengan berbagai permasalahannya. Seperti yang termaktub di dalam Galatia 6:9 yang berbunyi,  ”Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.” Dan juga dalam 1 Petrus 1:6-7 yang menyatakan, “Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berduka cita oleh berbagai-bagai percobaan. Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu, yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api, sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diriNya.”

Tuhan Yesus menopang hidupmu.


Tanpa Birokrasi

Suatu sore di tengah perbincangan antara 2 orang sekantor:

“Bagaimana, sudah beres belum urusannya?”

“Apanya yang selesai ??… Boro-boro beres, malah ditambahin segala macam syarat nih!!”

“Alamat nambahin kerjaan”

“Ya, iyalah… namanya juga prosedur ya mesti diikutin. Ajaibnya kalo prosedur itu ditambah-tambahin. Wah semoga nggak deh…”

Di dalam kehidupan sehari-hari, manusia terkungkung oleh berbagai aturan, prosedur, birokrasi, dan proses. Kungkungan itu bukan hanya sebagai batasan yang menimbulkan syak wasangka negatif saja melainkan seringkali memang harus dilalui dan dilengkapi atas nama proses.

Beberapa contoh yang bisa saya gambarkan misalnya:

Untuk meraih suatu pekerjaan sebagai attache diplomatik di Kedutaan Besar RI misalnya, seseorang harus sekolah di mulai SD-SMP-SMU di sekolah yang dirasa favorit. Tetapi untuk masuk di SMAN Favorit di Surabaya bukan sesuatu mudah, teman sekerja saya mengatakan anaknya tergeser dari bangku kursi SMAN 5 hanya terpaut 0,02 dari nilai test peringkat di atasnya.

Saya ambil contoh lulusan SMAN Kompleks (SMU Kompleks 1,5, dan 9) Surabaya dengan nilai ujian akhir (Unas) tertinggi plus lulus UMPTN,  akan punya lebih banyak kesempatan untuk bisa masuk kuliah di Universitas Airlangga, Universitas Gajah Mada atau Universitas Indonesia.

Untuk bisa masuk Universitas Negeri Favorit pun bukanlah semudah membalik telapak tangan. Kolega saya yang lain pun bercerita bahwa anak perempuannya yang notabene selalu meraih yang prestasi terbaik di sekolahnya di luar kota Surabaya, tidak bisa diterima masuk Universitas Airlangga Fakultas Kedokteran karena uang sumbangan atau uang bangku yang mencapai minimal ratusan juta rupiah.

Setelah itu dibekali dengan berbagai syarat lainnya, baik formil maupun di bawah meja, maka lulusan SMAN Favorit baru bisa diterima bekerja sebagai pegawai negeri menapaki jenjang karir di Departemen Luar Negeri RI apabila berhasil lulus dengan nilai terbaik dari Universitas Negeri Favorit plus koneksi. Jika karir dan arah prestasinya bagus maka dia dapat akhirnya menjadi seorang diplomat. Panjang bukan prosesnya?

Dari kesemua syarat-syarat dan peraturan yang nampak sulit di mata manusia, ada satu hal yang sangat mudah tanpa syarat yang dapat diperoleh oleh manusia. Hal itu adalah iman Kristiani. Iman kepada Kristus sangatlah sederhana dan sesederhana seorang anak kecil yang mempercayai apa saja yang dikatakan orang tuanya.

Pada tahap awal yaitu tahap seseorang menjadi Kristen, dia tidak perlu apapun dan tidak perlu berbuat apapun. Cukup dengan ketulusan dan kesadaran hati dan jiwa yang paling dalam mengakui atas dosa hakikinya dan menerima bahwa Yesus Kristus yang telah menebus dosanya dengan kasih karuniaNya. Singkatnya, iman itu tidak butuh birokrasi. Iman dalam Kristus tidak berbelit-belit dan tanpa syarat. Tuhan Yesus sendiri yang sudah berkorban untuk menebus kita dan mencintai kita anak-anakNya tanpa syarat.

Dalam Efesus 2: 8-10 “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu; jangan ada orang yang memegahkan diri. Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau. supaya kita hidup di dalamnya.”

Cukup sederhana tapi tidak boleh diremehkan, walau iman dalam Kristus nampak gampang dan tidak perlu birokrasi. Iman adalah sesuatu yang hakiki dan mendasar dari kehidupan manusia. Iman adalah juga pilihan, tidak bisa dipaksakan, dimana kita akan berpijak seumur hidup kita. Iman juga bersifat dinamis karena akan dapat tumbuh berkembang atau tumbuh kerdil bahkan mati kering ke akar-akarnya tergantung dari penyikapan kita.

Adalah kewajiban kita untuk mendewasakan iman dan mengaplikasikannya dalam kehidupan kita dalam konteks apapun yang Tuhan tempatkan pada diri kita di mana saja kita di tempatkan dan apapun yang Tuhan berikan dalam hidup kita untuk kita lakukan dan kita kembangkan. Ini pun berlaku dalam hubungan kita dengan setiap orang yang kita jumpai dalam kehidupan kita baik yang seiman dan juga yang belum atau tidak seiman.

Petrus mengingatkan kita pada Kolose 2:6-7 “Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kita. Karena itu hendaklah hidupmu tetap di dalam Dia. Hendaklah kamu berakar di dalam Dia dan dibangun di atas Dia, hendaklah kamu bertambah teguh dalam iman yang telah diajarkan kepadamu, dan hendaklah hatimu melimpah dengan syukur.”

Dan jikalau karena iman kita kepada Kristus kita mengalami berbagai kesulitan, itu hanya sesaat saja dalam pandangan kasat mata duniawi kita. Mari kita makin dikuatkan oleh 2 Petrus 3:14-17 “Tetapi sekalipun kamu harus menderita juga karena kebenaran, kamu akan berbahagia. Sebab itu janganlah kamu takuti apa yang mereka takuti dan janganlah gentar. Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan! Dan siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat, dan dengan hati nurani yang murni, supaya mereka, yang memfitnah kamu karena hidupmu yang saleh dalam Kristus, menjadi malu karena fitnahan mereka itu. Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.”

Yesus Kristus menopang hidupmu…


Encouragement or Insult

Depression is getting more and more common among people from all over the place, regardless of age and across gender as well as social status. Where one could say that depression might be self induced or a merely cry for attention a.k.a acting , other could say that it is a debilitating illness.

Mood stabilizer such as prozac and abilify has been prescribed widely but yet to totally cure depression without a strong willingness of that person to break free from it.

Society in general are sceptic towards depression and simply think that there is an easy way out of by saying statements or so-called-supposedly words of encouragement such as:

- Ahhhh, C’mon get over it!

- Ain’t life a bitch

- Suck it up. life is not fair indeed!! just snap out of it

- Stop your self-pity!! don’t feel sorry for yourself

- You need a kick on your ass (backside)

- You’re lucky ! look at other who are below you, not just keep looking above

- It isn’t that bad at all

- Get your act together and just cheer up!!

- Grow up and stop being a crybaby!!

As a person of faith and another human being, I suggest we should look deeper under this serious issue of depression. Whatever we say that we might mean good or positively encourage others with depression might not be accepted well. Our words could turn into a sharp dagger that excruciatingly insults a depressed soul.

Instead, let’s turn to our Almighty Father to help with whatever our affliction and our struggling, whether it is what we are personally experiencing or others.

Psalm 25: 16-18

16 Turn Yourself to me, and have mercy on me,
For I am desolate and afflicted.
17 The troubles of my heart have enlarged;
Bring me out of my distresses!
18 Look on my affliction and my pain,
And forgive all my sins.


Bill Hybels on CEO Howard Schultz’s Withdrawal: ‘Buy a Starbucks and Show Some Christian Goodwill’ | Liveblog | Christianity Today

Bill Hybels on CEO Howard Schultz’s Withdrawal: ‘Buy a Starbucks and Show Some Christian Goodwill’ | Liveblog | Christianity Today.

I respect Christian who stands by faith through kind love towards others regardless of differences. I, too, had few chances work with homosexuals and appreciated our professional relationship at work. Although I believe that homosexuality is wrong since it is written in the Bible but I believe that Christian should not be hostile toward gay people. Homosexuality should be an individual matter; it is between a human being with God. Not mixing it up with any political agenda nor governmental interference. I truly stand on the separation between state and faith.

Hybels’ support shows true Christian love towards Starbucks as a global brand despite Schultz’s withdrawal from the Summit engagement. Schultz was in difficult position and fear of backlash from the non-christian and/ or the gay community. If he comes as a Howard Schultz as a person he should not have been in fear and withdrawn, but if he comes as a Starbuck CEO, well yes he could be jeopardized by the potential brand boycott. Nevertheless, he made his choice.


recession, really??

In a regular Thursday, there is a conversation flowing between two persons taking a commuter ride to work in a train.

A: Recession?? You’ve gotta be kidding me?

B: Alright, what is your reasoning? Are you in denial?

A: Check it out. Look at mall, take a peek at your office mates in their cubicles doing ‘online shopping’. Seriously, check out those ladies on the back row who keep rotating between her Choos and Louboutin plus her Hermes and LV.

B: So…??

A: So this is not recession really. Shopping season is just in the corner. Thanksgiving, Rosh Hashanah, Christmas, New Year, Kwanzaa, Chinese Lunar New Year are the powerful enabler…

Does it make us cringe listening to the conversation above? Maybe yes maybe not. For some fortunate people who are able to hold down a comfy job it might not feel like a a true recession. Recession is an anemic economy showing general slow down in the creation of supply and demand. Recession per se is defined by two or more consecutive quarters showing negative growth in real GDP but what warns people the most is the effect of recession worldwide.

Knowing people who are less fortunate losing jobs really humble my soul, but is it enough? Are we aware of the ramification of losing a job? A way of putting bread and butter for most of our fellow workers, not just in America or England but in any where in the world. Breadwinner get depressed. Spouse get psychotic. Children get paranoid. And more…

So what? For many Christians this is our wake up call. Ample luxury and abundant lifestyle somehow has desensitize our soul to life happenings, surrounding us and in the world. Being thankful is ONE big major step that allow us to raise up our awareness because life does has its ups and downs, just like a musical chairs. Whose turn it is to get the up or the down.

We will not know what is occurring in life ahead of us for we are human being created by God. Therefore, I Thessalonians 5:16-18 says “Rejoice always, pray continually, give thanks in all circumstances; for this is God’s will for you in Christ Jesus.”

It refers back to one of my soul nourishing chapters in Ecclesiastes 3:

“1 For everything there is a season,

a time for every activity under heaven.
2 A time to be born and a time to die.
A time to plant and a time to harvest.
3 A time to kill and a time to heal.
A time to tear down and a time to build up.
4 A time to cry and a time to laugh.
A time to grieve and a time to dance.
5 A time to scatter stones and a time to gather stones.
A time to embrace and a time to turn away.
6 A time to search and a time to quit searching.
A time to keep and a time to throw away.
7 A time to tear and a time to mend.
A time to be quiet and a time to speak.
8 A time to love and a time to hate.
A time for war and a time for peace.

9 What do people really get for all their hard work? 10 I have seen the burden God has placed on us all. 11 Yet God has made everything beautiful for its own time. He has planted eternity in the human heart, but even so, people cannot see the whole scope of God’s work from beginning to end. 12 So I concluded there is nothing better than to be happy and enjoy ourselves as long as we can. 13 And people should eat and drink and enjoy the fruits of their labor, for these are gifts from God.

14 And I know that whatever God does is final. Nothing can be added to it or taken from it. God’s purpose is that people should fear him. 15 What is happening now has happened before, and what will happen in the future has happened before, because God makes the same things happen over and over again.

16 I also noticed that under the sun there is evil in the courtroom. Yes, even the courts of law are corrupt! 17 I said to myself, “In due season God will judge everyone, both good and bad, for all their deeds.”

18 I also thought about the human condition—how God proves to people that they are like animals. 19 For people and animals share the same fate—both breathe[a] and both must die. So people have no real advantage over the animals. How meaningless! 20 Both go to the same place—they came from dust and they return to dust. 21 For who can prove that the human spirit goes up and the spirit of animals goes down into the earth? 22 So I saw that there is nothing better for people than to be happy in their work. That is why we are here! No one will bring us back from death to enjoy life after we die.”

So can we change our perspective about life? For whatever job that we are currently have or not have or aspired to have, is a lot from God for us to enjoy. We better be happy and thankful in our toil for this is also coming from God. Honestly, easy to say hard to do… but deep in our heart we know it is true… God Blesses.


katanya….

Di suatu siang, saya berputar-putar di daerah kerajinan dan barang kuno di suatu kota dimana banyak berjejeran pedagang-pedagang yang sedang menjajakan dagangannya. Pikir saya, wah gampang ini, semua pedagangnya kan ‘ngelumpuk’ (menjadi satu area) jadi tinggal lihat-lihat lalu bandingin harga dan bungkus deh… begitu pikir saya.

Ternyata saya di singgah si satu pedagang dan memegang-megang beberapa lampu ukiran tembaga dan kuningan yang cantik. Saya tanya berapa harganya dan si pedagang menjawab sekian rupiah wahhhh pikir saya lumayan miring juga untuk ukuran dan harganya ya… tapi nggak apa-apalah saya jalan dulu lihat yang lain.

Singgah lagi di pedagang ke-2, ke-3, k-4 sampai ke-15 saya bukannya tambah mantap untuk menawar dengan prakiraan yang tepat, tapi malah bingung…lha memang semuanya punya barang yang berbeda-beda dan tak ada yang persis sama dengan jenis yang saya cari.

Lalu saya kembali lagi ke pedagang ke-1, dan saya kuatkan hati saya memang itu yang saya mau dan saya pikir harganya relatif masuk akal untuk kualitas yang disajikan. Begitu saya masuk penjual yang sama ternyata sudah tidak ada. Langsung saya menuju ke tempat display lampu-lampu yang sudah saya tawar.
Lalu muncul seorang bapak separuh baya menanyai saya. Saya jawab dan saya tawar harga yang tadi disebut. Saya tanya mana Mas yang tadi? Bapak separuh baya itu menjawab, bahwa yang tadi menantunya yang disuruh jaga. Harga yang sekian rupiah tadi salah menurut bapak ini. Saya cuman bisa beragumentasi bahwa ‘katanya’ menantunya harga tersebut masih bisa saya tawar asal saya membeli beberapa jenis lain yang juga saya taksir.

Dalam hati saya sempat dongkol karena ‘katanya’ tadi, tapi apa mau dikata saya tidak punya bukti tertulis bahwa pemuda tadi mengatakan nilai sekian yang akan diberikan. Lagipun, masalahnya orang yang bersangkutan sudah tidak ada di tempat. Sulit bukan membuktikan sesuatu yang bersifat ‘katanya’.

Entah bapak ini yang bohong atau memang menantunya yang salah, saya tidak pernah tahu. Yang saya tahu memang kualitasnya sangat baik dibanding yang lainnya, keunikan desainnya juga jauh lebih menonjol dan bentuk lampu-lampu tersebut memang cantik. Saya coba tawar lagi dan saya memilih-milih lagi beberapa barang lain. Kemudian saya tawar semuanya dan saya mendapatkan korting alias diskon. Meski tidak sampai “Yay!! Diskon 50%” tapi saya pikir buat apa saya ngotot toh nanti Tuhan yang akan ganti rejeki saya dan saya masih bisa bayar.

Pengalaman siang itu membuat saya teringat juga bahwa istilah ‘katanya’ yang sering membawa masalah dalam berbagai hubungan manusia. Baik itu hubungan antara teman dan teman sekantor, sekuliah, sesekolah, sekeluarga antar-ipar-mertua, bahkan juga segereja.
Memang kalo tidak bisa berbicara langsung dengan orang yang bersangkutan memang sulit untuk mencari kebenaran.

Pernah suatu kali saya mempunyai teman (sebut saja si A) yang memberikan silent treatment kepada teman sejemaatnya yaitu si B, karena si A mendengar dari orang lain mengkritik dia hanya karena sesuatu hal dalam hal pelayanan gereja. Spontanitas A merasa sakit hati apalagi orang yang memberitahu dia adalah orang yang dia percayai. Namun A sendiri merasa buat apa diterus-teruskan? Toh ini kan bersumber dari ‘katanya’… A tidak pernah secara langsung mendengar dari B. Akhirnya A memberanikan diri untuk berdoa dan kemudian menghampiri B dan secara langsung menanyakan tentang perihal yang bersangkutan. Betapa leganya A dan B setelah mengetahui semuanya terjadi hanya karena kesalahpahaman.

Hidup berjemaat dan saling mengasihi satu sama yang lain adalah suatu perintah dari Allah sendiri. Walaupun prakteknya tiap manusia mempunyai ego masing-masing dan keinginan untuk dihargai dan diterima apa adanya, tapi manusia tidak bisa menjauhi konflik. Yang ada adalah bagaimana anak Tuhan bisa menyelesaikan konflik apalagi jika konflik itu timbul dari sebuath kata singkat ‘katanya’. Kata ‘katanya’ memang singkat namun bisa menimbulkan perpecahan dan juga menyebabkan masalah jangka panjang jika tidak ada penyelesaian yang terbuka.

Sama juga didalam dunia kerja, jika ada perselisihan hanya karena kata singkat ‘katanya’, kita sebagai anak Tuhan harus menjadi terang dan garam karena orang lain yang tidak atau belum seiman dengan kita akan melihat kualitas integritas kita. Saran saya adalah kita cari akar permasalahannya langsung kepada orang yang bersangkutan dan dengan empat mata saja tanpa melibatkan pihak lain dan kemudian kita selesaikan kesalahpahaman yang ada.

Seperti yang sudah Yesus ajarkan bahwa Dia tidak menghapus Taurat tapi menggenapinya, contoh: Matius 22:36-40 “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”

Kita pun harus introspeksi diri apakah kita sebagai figur anak Tuhan di lingkungan kita menjadi biang masalah baik secara sengaja maupun tidak disengaja.
Ibrani 12:14-15 Berusahalah hidup damai dengan semua orang dan kejarlah kekudusan, sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan. Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.

Mari kita mengusahakan hidup berdamai dengan siapa saja. Tuhan memberkati.


Berbahasa Roh Berarti Spiritual ???

Ajakan untuk berbahasa roh makin membahana di banyak gereja baik gereja karismatik, pantekosta dan lainnya, dan stadion tempat berkumpulnya acara-acara penginjilan akbar maupun evangelistic event di berbagai penjuru dunia. Dari banyak orang lumpuh bisa berjalan sampai orang tuli bisa mendengar, banyak keajaiban Tuhan yang benar-benar terjadi dan diurapi oleh Roh Kudus dalam bentuk bahasa Roh.

Pertanyaannya, apakah benar bahasa roh adalah bukti bahwa seorang Kristen benar-benar menjadi Kristen yang sangat spiritual? Jawabannya kita temukan pada definisi apa itu buah-buah Roh di Galatia 5:22-23 “Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu.”  Bahasa Roh bukan merupakan buah Roh, jadi bahasa roh bukan bukti atau syarat bahwa seseorang adalah seorang Kristen yang tingkat spiritualitasnya tinggi atau bukti bahwa seseorang beriman dalam Kristus

Dalam 1 Korintus pasal yang ke-12 dinyatakan bahwa ada berupa-rupa karunia namun satu roh; ada rupa-rupa pelayanan tapi satu Tuhan; ada berbagai perbuatan ajaib tetapi yang mengerjakan adalah hanya satu yaitu Allah. Tuhan mengaruniai karunia yang berbeda-beda di setiap orang; karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, karunia untuk berkata-kata dengan pengetahuan, karunia untuk menyembuhkan, karunia kuasa untuk mengadakan mujizat, karunia untuk bernubuat, karunia untuk membedakan bermacam-macam roh, karunia untuk berkata-kata dalam bahasa roh dan karunia untuk menafsirkan bahasa roh tersebut. Sehingga apakah benar orang yang bisa berbahasa roh itu ada? Ya benar sesuai dengan yang dikaruniakan oleh Tuhan namun bukan karena usaha manusia atau perolehan manusia.

Selebihnya dalam pasal yang ke-13 dijabarkan bahwa ajaran Kristus mengenai kasih, iman dan pengharapan tidak akan berkesudahan. Sedangkan di ayat ke-9 dikatakan bahwa nubuat bisa berakhir, bahasa roh bisa berhenti, dan pengetahuan bisa lenyap. Sehingga yang terutama adalah ajaran mengenai kasih, karena kasih itu sabar, murah hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, sopan, tidak mencari keuntungan diri sendiri, tidak pemarah, tidak menyimpan kesalahan orang lain, tidak bersukacita karena ketidakadilan, kasih menutupi segala sesuatu, percaya dan mengharapkan segala sesuatu dan sabar menanggung segala sesuatu.

Pasal ke-14:12-13 “Demikianlah pula dengan kamu: kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih dari pada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya utnuk membangun jemaat. Karena itu siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia harus berdoa, supaya kepadanya diberikan juga karunia utnuk menafsirkannya.” Ayat ke-9 juga mengatakan “Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh; jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara!”

Karena itu sebagai umat beriman jadilah garam dan terang dunia dan lakukanlah perintah-perintah Tuhan namun jangan merasa rendah diri atau tidak spiritual hanya karena tidak bisa berbahasa roh. Dan jangan karena ingin dipandang suci atau spiritual lalu berusaha keras berbahasa roh dengan usaha sendiri melafalkan dan mengulang-ulang huruf-huruf atau kata-kata. Ingat bahasa roh adalah karunia Tuhan bukan karena usaha manusia atau hasil latihan.

Hati-hati juga dengan godaan iblis karena iblis seringkali menghantui pikiran manusia bahwa supaya mereka bisa ‘sempurna’ mereka harus nampak spiritual dan berarti harus mampu berbahasa roh.

Sahabat seiman dalam Kristus, hati-hatilah dengan apapun yang anda tambah-tambahkan bukan dari Allah karena telah tertulis di Wahyu 22:18-19 “Jika seorang menambahkan sesuatu kepada perkataan-perkataan ini, maka Allah akan menambahkan kepadanya malapetaka-malapetaka yang tertulis dalam kitab ini. Dan jikalau seseorang mengurangkan sesuatu dari perkataan-perkataan dari kitab nubuat ini, maka Allah akan mengambil bagiannya dari pohon kehidupan dan dari kota kudus, seperti yang tertulis di dalam kitab ini.”


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 57 other followers