Bagaimana perasaanmu apabila di saat kamu mengalami kesusahan seperti sakit badani atau bangkrut maka teman yg kamu curhati bukannya bersimpati atau mendengarkan dan memberi motivasi, malahan menjatuhkan. Seringkali teman dekat, saudara atau teman yang seiman dalam Kristus, terutama yang dalam tanda kutip ‘fanatik’ selalu menyamakan hal negatif atau kejatuhan yang terjadi dalam hidup timbul karena dosa atau kesalahan atau keturunan.
Contoh perbincangan: ‘Kamu ditipu orang? Wah mesti ada yang nggak beres? Dosa apa kamu?’ atau ‘Kamu mengalami kecelakaan ? Wah pasti loe dosa besar sama Tuhan? Ayo ditengking kuasa-kuasa jahatnya!!’ ’Loe kena kanker? Pasti punya dosa keturunan dari nenek moyang loe?? Ayo doa pelepasan!!’ Dan masih banyak contoh stereotip yang lainnya.
Memang benar, hal-hal seperti diatas adalah perlu adanya untuk merefleksi keadaan dan kesehatan jiwa dan iman Kekristenan kita. Intropeksi dari waktu ke waktu apalagi bagi orang Kristen yang bergelut sehari-hari dengan pekerjaan sekular dan rutinitas serta pasang-surutnya hidup, maka intropeksi akan membuka mata hati kita akan langkah atau tindakan yang mungkin sudah salah atau menyakiti orang lain dan tidak sesuai dengan ajaran Tuhan.
Pertanyaannya adalah dalam kehidupan manusia beriman yang modern sekarang ini, bagaimana kita menjalani iman yg hidup? Iman di dalam Kristus bukanlah iman yang buta. Iman Kekristenan adalah iman yang dinamis dan bukan sesuatu yang dianggap tidak relevant, kuno, mati di jalan alias ‘mandek pasrah bongkokan’. Allah memberi kita akal budi dan pikiran untuk berfikir, membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mana yg sesuai dengan perintah Tuhan dan mana yg tidak. Apakah tidak terpikirkan bahwasanya kalau kita kecelakaan di jalan logikanya karena kita sendiri terburu-buru atau tidak hati-hati? Atau, kalau kita ditipu secara financial oleh partner kerja atau teman dekat karena kita tidak hati-hati dan tidak siap ‘kehilangan’ rela dengan teman walau dalam hati sebetulnya kita sudah menduganya?
Bercermin dari kisah Ayub yang mempunyai 3 teman, saya akan bercermin dengan mengupas salah seorang saja dari teman Ayub yaitu Elifas. Elifas menjorokkan Ayub lebih dalam dalam kejatuhannya dengan kalimat di Ayub 4: 6-8 yang berbunyi, “Bukankah takutmu akan Allah yang menjadi sandaranmu, dan kesalehan hidupmu menjadi pengharapanmu? Camkanlah ini: siapa binasa dengan tidak bersalah dan di manakah orang yang jujur dipunahkan? Yang telah kulihat ialah bahwa orang yang membajak kejahatan dan menabur kesusahan, ia menuainya juga.”
Teguran Elifas kepada Ayub sangat menoreh tajam. Sindiran di ayat 6 bahwa semua ketaatan Ayub kepada perintah dan jalan Tuhan seakan hanya dinding yand dingin dan membisu menabrak hidup Ayub. Di ayat 7 Elifas lebih menyindir dengan satirisme yang menuduhkan bahwa Ayub pasti salah dimata Tuhan. Kalau tidak, maka tidak mungkin Ayub tertimpa semua masalah hidup tersebut. Elifas pun tak lupa menekankan pernyataan tentang hukum alam tabur tuai bahwasanya orang baik tidak mungkin terkena musibah. Maka semua tuduhan dan sindiran Elifas kepada Ayub, saya rasa telah menghujam lubuk hati Ayub.
Walau di akhir cerita kita tahu bahwa Ayub adalah orang saleh namun tetap terkena beban dan malapetaka dalam hidup. Ayub juga tidak sempurna, walau ia takut akan Tuhan tapi sebagai manusia dia juga menggerutu, berkeluh kesah dan mengakui kedaulatan dan kekhalikkan Tuhan, bahwasanya Tuhan sendiri berkuasa mutlak atas apapun yang terjadi dalam kehidupan di alam semesta ini. Perihal musibah yang terjadi, itu karena diijinkan oleh Tuhan sehingga terjadi petaka dalam hidup Ayub, sampai akhirnya Ayub dipulihkan oleh tangan kuasa Tuhan sendiri.
Dari kisah jatuh bangunnya Ayub hingga ia dipulihkan Allah, Ayub 42: 7 yang mengatakan, “Setelah Tuhan mengucapkan firman itu kepada Ayub, maka firman Tuhan kepada Elifas, orang Teman: ‘MurkaKu menyala terhadap engkau dan terhadap kedua sahabatmu, karena kamu tidak berkata benar tentang Aku seperti hambaKu Ayub’ .”
Dari ayat tersebut kita mengetahui bahwa ujaran, sindiran dan kata-kata Elifas yang memojokkan Ayub adalah tuduhan tanpa dasar. Elifas tidak mengetahui kehendak Tuhan dan apa alasan Tuhan menimpakan malapetaka kepada Ayub. Elifas hanya menuduh dengan yakin bahwa Ayub melakukan penyimpangan terhadap Tuhan. Elifas dan kedua temannya, Bildad dan Zofar, pun dimurkai Tuhan karena tidak berkata benar tentang Allah. Di akhir cerita, Ayub dipulihkan dan mendoakan ketiga temannya agar diampuni Tuhan disertai korban bakaran.
Intinya, tidak semua masalah timbul karena Tuhan semata atau karena hukuman Tuhan kepada kita, manusia beriman dalam Kristus, yang tidak sempurna dan melakukan dosa. Jika memang iya, bereskan terlebih dahulu semua dosa dan kesalahan kita. Namun jika bukan karena hal tersebut, maka kita jangan dengan mudah menuduh atau menuding orang lain sebagai pecundang dari segi ukuran nilai Kekristenan.
Sebaliknya, jangan mudah menilai bahwa keberuntungan atau rezeki berlimpah yang dialami oleh seorang Kristen menandakan bahwa iman Kekristenannya sempurna dalam keadaan sehat.